• Home
  • News
  • Berita Kalibrasi Standar Struktur Biaya untuk Penguatan Efisiensi
Kembali ke List Berita

Kalibrasi Standar Struktur Biaya untuk Penguatan Efisiensi

Tidak seperti dua saudara tuanya, Standar Biaya Masukan dan Standar Biaya Keluaran, Standar Struktur Biaya baru pertama kali diperkenalkan pada 2014. Standar Struktur Biaya diintroduksi sebagai acuan bagi kementerian negara/lembaga dalam menyusun komposisi biaya keluaran (output) dalam penyusunan rencana kerja dan anggaran kementerian negara/lembaga (RKA-K/L). Sama halnya dengan instrumen Standar Biaya lain, Standar Struktur Biaya diharapkan menjadi alat untuk mendukung efisiensi alokasi biaya dalam penyusunan RKA-K/L, melalui penilaian kewajaran komposisi biaya tertentu dari suatu keluaran (output) yang berupa batasan besaran atau persentase tertentu. Proporsionalitas komposisi biaya atas suatu keluaran (output) sejenis/serumpun akan lebih terjamin, di saat yang sama akan dapat menyederhanakan proses penelaahan RKA-K/L.


Semula Standar Struktur Biaya hanya dikenakan pada output jasa layanan non regulasi. Pada tahun 2021, pengenaan Standar Struktur Biaya diperluas, diterpakan pula pada output barang infrastruktur, barang noninfrastruktur, dan jasa regulasi. Komitmen Pemerintah untuk melakukan reformasi belanja negara dalam rangka penguatan efisiensi untuk belanja kebutuhan dasar, efektivitas belanja prioritas dengan penekanan pada pelaksanaan anggaran berbasis pada hasil (result based), serta penguatan kapasitas kebijakan melahirkan Redesain Sistem Perencanaan dan Penganggaran (RSPP) pada tahun 2020. Dalam RSPP, konsep produk dan intervensi pemerintah diterjemahkan dalam output kegiatan K/L yang terdiri atas Klasifikasi Rincian Output (KRO) dan Rincian Output (RO).

Berbeda dengan RO, KRO tidak menggambarkan output riil secara langsung. KRO merupakan pengelompokan yang bersifat umum. KRO menjadi level baru untuk mengkasifikasi output-output K/L yang sejenis secara sistematis. Pengelompokan diharapkan akan memudahkan perbandingan harga satuan. KRO dibagi ke dalam enam (6) grup, yaitu Kerangka Regulasi, Kerangka Pelayanan Umum, Kerangka Investasi Fisik, Kerangka Investasi SDM dan Sosial Ekonomi, Administrasi Pemerintahan Internal Kementerian/Lembaga, dan Administrasi Pemerintahan Internal Pemerintahan (antar KL dan antar Pemerintah Pusat Daerah). Masing-masing Grup tersebut kemudian didetailkan lagi ke dalam Jenis KRO, yang total berjumlah 31. Grup KRO Kerangka Investasi Fisik misalnya terdiri atas lima (5) Jenis KRO: Sarana, Prasarana, Operasional dan Pemeliharaan Sarana, Operasional dan Pemeliharaan Prasarana, dan Konservasi. Kelima Jenis KRO tersebut tentunya memiliki definisi dan karakteristik output masing-masing.

Implementasi RSPP dengan konsep KROnya menjadi mercusuar ekstensi penerapan SSB. Enam grup KRO menjadi relevan sebagai basis pengenaan SSB. Penentuan maksimal besaran biaya pendukung terhadap total biaya RO pada masing-masing Jenis KRO di tiap Grup KRO perlu didasarkan pada data historis. Kualitas data yang digunakan akan mempengaruhi kredibilitas keseluruhan estimasi. Dengan demikian, pengumpulan data historis yang valid dan berguna merupakan langkah penting dalam mengembangkan estimasi Standar Struktur Biaya pada masing-masing Jenis KRO. Salah satu cara untuk memastikan bahwa data tersebut dapat digunakan sebagai referensi angka batasan besaran biaya pendukung yang dapat diterapkan adalah dengan melakukan pemeriksaan kewajaran untuk melihat apakah hasilnya konvergen.

Biaya Utama atau Komponen Utama?

Untuk menghasilkan Rincian Output, unit kerja K/L melakukan aktivitas yang dalam struktur data Renja K/L disebut sebagai Komponen. Komponen mencerminkan informasi tahapan/proses/bagian pembentuk dari RO. Merumuskan komponen tidak kalah penting dengan merumuskan output. Sedari awal, K/L telah harus dapat mengidentifikasi aktivitas untuk menghasilkan RO untuk kemudian dirumuskan sebagai komponen, serta menandainya sebagai Komponen Utama ataupun Komponen Pendukung. Komponen Utama adalah semua aktivitas yang nilai biayanya berpengaruh langsung terhadap pencapaian suatu RO. Sebaliknya, semua aktivitas yang nilai biayanya tidak berpengaruh langsung terhadap pencapaian RO dikategorikan sebagai Komponen Pendukung.

Jika komponen dalam suatu RO digambarkan secara sederhana sebagai pelaksanaan fungsi manajemen yang terdiri dari perencanaan (planning); pengorganisasian (organizing); pelaksanaan (actuating); dan monitoring, evaluasi, dan pelaporan (controlling), maka aktivitas yang mencerminkan tahapan pelaksanaan (actuating) dapat mudah diidentifikasi sebagai Komponen Utama. Untuk memudahkan implementasi dan pengujian kepatuhan terhadap SSB, atribut biaya utama dan biaya pendukung seyogyanya ekuivalen dengan separasi Komponen Utama dan Komponen Pendukung. Cakrawala ini menjadi panduan bagi K/L dalam merumuskan komponen dan memilih jenis komponen, baik Komponen Utama dan Komponen Pendukung, pada saat penyusunan Renja K/L. Dalam pada itu, penyusunan dan penelaahan Renja K/L menjadi momen krusial dalam menghasilkan RKA-K/L yang efektif dan efisien.


Faslan Syam Sajiah/AAI-0337

JFAA Ahli Pertama pada Direktorat Jenderal Anggaran

Disclaimer: Konten ini menjadi tanggung jawab Penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Website AAI.