Pagu Indikatif TA 2026 akan Prioritaskan Visi Presiden
Kementerian
Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional mengumumkan
tema Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2026 “Kedaulatan
Pangan dan Energi, serta Ekonomi yang Produktif dan Inklusif”. Tema ini menjadi
landasan awal dalam mewujudkan delapan (8) Prioritas Nasional (PN) sesuai
dengan Asta Cita sebagai visi-misi Presiden dan Wakil Presiden sebagaimana
telah ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)
2025-2029. Tema dan PN tersebut direfleksikan dalam sasaran utama RKP Tahun
2026 yang dirancang guna menjaga kesinambungan pembangunan nasional sekaligus
mendorong percepatan transformasi.
Wakil
Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan bahwa RKP Tahun 2026 harus
benar-benar selaras dengan Prioritas Nasional dan arahan Presiden Prabowo
Subianto. Selain itu, Wakil Menteri Keuangan menilai perlu dilakukan perubahan
pola pikir dalam menyusun anggaran, tidak lagi dimulai dari belanja operasional
yang bersifat rutin, melainkan berangkat dari desain program terlebih dahulu. “Kita
tahu persis di dalam proses penyiapan anggaran, desain anggaran, biasanya kan bottom up. Kita harus berubah. Programnya yang duluan, bukan
operasionalnya yang duluan. Mau bikin program apa, di situ ada belanja
operasionalnya. Bukan operasionalnya dulu apa, baru sisa operasional adalah
program. Saya minta diubah,” kata Wamenkeu Suahasil dalam Rapat Koordinasi
Pembangunan Pusat (Rakorbangpus) Tahun 2025 dan Kick Off Meeting
Penyusunan RKP Tahun 2026 pada 5 Mei 2025.
RKP merupakan dokumen perencanaan tahunan yang akan menjadi dasar penyusunan APBN 2026 bersama dengan dokumen Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF). Keduanya akan disampaikan dalam pembicaraan pendahuluan bersama DPR yang dimulai pada 20 Mei mendatang. Dalam paparannya, Wamenkeu Suahasil menjelaskan bahwa penekanan prioritas pembangunan pada RKP tahun 2026 terdiri atas lima direktif Presiden dan program-program lain yang konkret, terukur, dan berdampak yang tersebar dalam seluruh Prioritas Nasional.
Prioritas Nasional
tahun 2026 fokus kepada program kedaulatan pangan dan energi (PN 2), yang di
dalamnya mencakup optimalisasi Bulog, pelaksanaan lumbung pangan, peningkatan
bauran ethanol dan biodiesel, energi terbarukan, pengembangan SPAM terintegrasi
hulu ke hilir, hingga pengelolaan sampah. Prioritas lainnya yakni ekonomi yang
produktif dan inklusif (PN 1, 3, 4, 5, 6, 7, dan 8). Prioritas tersebut terdiri
dari program pendidikan dan kesehatan yang di dalamnya terdapat program Makan
Bergizi Gratis (MBG), percepatan renovasi sekolah, percepatan rumah sakit
daerah, digitalisasi pendidikan, hingga Sekolah Rakyat. Program lainnya adalah
deregulasi dan kepastian hukum, pertahanan semesta, percepatan pertumbuhan
ekonomi melalui percepatan hilirisasi sumber daya alam hingga optimalisasi
potensi Danantara, adopsi teknologi dan inovasi, percepatan pengentasan
kemiskinan melalui program tiga juta rumah hingga koperasi desa/kelurahan merah
putih, serta fiskal adaptif dan stabilitas makroekonomi.
Pemerintah
mulai menyusun RKP Tahun 2026 dengan target pertumbuhan ekonomi yang tinggi,
yakni pada kisaran 5,8% hingga 6,3%. Untuk mencapai target itu, konsumsi Pemerintah
diharapkan tumbuh 6,8% hingga 7%. Konsumsi Pemerintah di tahun 2026 tercermin
dalam APBN TA 2026 yang secara siklus masih pada tahapan penyusunan Pagu
Indikatif. Deputi Bidang Pembiayaan dan Investasi Pembangunan, Putut Hari
Satyaka, menyampaikan besaran pagu belanja Kementerian/Lembaga pada Pagu
Indikatif TA 2026 kemungkinan akan bersifat baseline.
Pagu Indikatif dapat dipertajam dan dimutakhirkan sejalan dengan siklus APBN. Menjelang
terbitnya Surat Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Perencanaan Pembangunan
Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional mengenai Pagu Indikatif
TA 2026, Kementerian/Lembaga agar mempersiapkan rancangan Rencana Kerja K/L
yang antara lain memuat dukungan terhadap sasaran Prioritas Nasional Tahun 2026
serta memenuhi Arahan dan Direktif Presiden.
